Blog

Blog EntrycerminOct 6, '08 8:52 AM
for everyone
senja yang mengusap, melarikan diri dari tepi
dapatkah kau merasakan pedih yang mendidih?
ia tetap bertahan melintasi
jalan setapak kota tua yang senyap

tak ada suara-suara jangkrik atau desahan liar
sesuatu yang bergerak-gerak adalah jantung
                    jantung berdetak-detak bagai sebuah irama
berpacu kencang selaju dengan lesatan kereta
                                                   kelinci merah muda berleher dasi

pohon-pohon hijau tumbuh kurus di kiri kanan
rumput tegak lurus tak tersentuh angin sepoi
jam kotak di samping kanan jalan
menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit
sudah waktunya bermandi di pancuran
dinanti-nanti para saudara setiri baik budi
yang tengah menyiapkan anggur merah sepekat darah
lantas mereka akan mabuk
                           menari-nari diiringi musik gipsi
                                         bernada purba, dari lampau yang jauh

kereta mungil itu beroda bulat
berwarna merah melingkar-lingkar
seperti episentrum menandai kepala-kepala yang tengah pusing tujuh keliling
apakah ia membuat lolipop besar untuk dijadikan roda-roda, ibu?

tibalah ritual sempurna
—rumah kecil nenek di sebuah pedesaan yang remang
                keranjang-keranjang bolu yang sekarang berisi kue ulang tahun
teringat tulang-tulang nenek yang kadang mengeras
                                                                  kadang riuh pedas
ia akan meringis keras jika kedua pahanya tersentuh
meski mereka hanya seekor lalat tak bertenaga
tubuh tak lembek seperti bubur ayam
tubuh meriang seperti malaria yang akut
semakin sekarat, semakin berkarat

ketuk, ketuklah pintu kayu itu!
kini nenek siap meniup sembilan puluh lilin
ia melangkahkan kaki-kaki mungilnya
rumah begitu gelap
                        pengap
             bagai tombak neraka
permainan-permainan petak umpet tak bergerak
asap-asap mengangkasa melebur jadi orang-orang
                                                                     atau sekelumit arang
mendadak lupa ingatan akan kue alot stroberi di tangan kanan

merah darah merekah marah!
nenek berstoking jala tertawa terbahak-bahak
beberapa kaca ikut melagukan dendang
                                         yang berdengung-dengung
pintu-pintu tertutup rapat
seolah-olah tak menerima lincah bulan purnama di luar:
kuning gading
              bundar lembing

pandanglah, pandanglah wujudmu!
nenek meraih cermin merah di dinding
menyodorkan padanya, menyuruhnya berkaca
dan seperti terhisap
ia tersedot
ia terburai
ia tersedot terburai
oleh
     c e r m i n

rumah kayumu mendamba jejak hadirmu
mereka telah menyiapkan sekaleng manis-manisan
                                                          bisa manis bisa pahit
untuk kecap lidahmu, lidah yang luar biasa panjang
                                                                 sepanjang lorong-lorong
di dalam kelengangan
                             c e r m i n

nenek berkomat-kamit, selesai sudah menggamit
gadis malang keluar dari cermin tersengal-sengal
di sana mungkin berlari-lari mencapai surga
setengah jam tersedot terburai
hanya beberapa detik ia berprasangka:
siapa kau? kau pencuri?—ya, pencuri usia
                                   ataukah kau saudara kembarku, telah keluar dari kubur?

kembalikanlah, kembalikanlah!
cermin yang merah
                     diukir oleh tangan-tangan rekah
mantra-mantra terucapkan tak gontai
dan ia berani memandang cermin merah itu

nenek telah memakai sepatu balet hitam polos
                                                      baju terusan hijau lumut
sedangkan ia cuma bisa memandang keriput-keriput yang berdansa
menyanyikan halo menyanyikan hola menyanyikan halo hola

tunggangkanlah roda-roda lolipop!
nenek siap menggetarkan pagar tegap rumah gadis itu
tolong buka pintunya!
                     aku telah menuangkan ritualku ke dalam cangkir dengan baik, ibu!
tak lupa, ia membawa cermin merah rekah serta
                                                                  senyum serigala

5 Oktober 2008
--terinspirasi lukisan Jessica's Hope-nya Mark Ryden

Blog Entrysiang dan malamOct 4, '08 9:19 AM
for everyone
siang ini aku takkan dapat berhenti berpikir
malam ini aku takkan dapat mengepak barang-barang
ke dalam satu koper besar untuk melarikan diri

siang ini siang nanti adalah siang yang sama
malam ini malam nanti adalah malam yang sama

besok umurku akan mencapai dua puluh satu tahun
mungkin juga tiga puluh tahun, mungkin enam puluh tahun
dengan benang di tangan serta kain wol di kedua paha
dan aku menjamin kalau anak-anak yang
tidak sehat itu tengah tertidur di kuburan sempit

kau selalu datang tanpa apa-apa
mengelus kelinci yang berkejar-kejaran dengan kelinci lainnya
di halaman rumah, memberinya wortel-wortel kurus
agar mereka bisa hidup lebih lama untuk melayani majikannya

malam ini, aku sungguh tak dapat menyiapkan apa-apa
selain pakaian bagus, karena televisi juga tak dapat menyala
acara-acara komedi pun sudah tidak laris
acara-acara persetubuhan telah berubah menjadi omelan
hingga bisa kita rasakan denyut nadi kita berjalan
seperti musik instrumental bodoh: nging nging nging

jika memang terbangun dari semua ini
kurasa mataku akan sedikit basah
begitupun dengan kasur ini
seperti saat pertama kali kau memasuki tubuhku

siang ini malam nanti atau siang nanti malam ini
segalanya akan berubah cepat
seperti rambutmu yang hitam lalu beruban di sana dan di sini
aku akan merasa tidak yakin untuk memanggilmu sayang lagi

percakapan apalagi yang kita butuhkan?
sementara aku sudah tertinggal jauh dari imajinasiku sendiri
rasanya lebih perih daripada disunat
aku sungguh takut akan mata yang terbuka di pagi hari
dan ternyata aku berada di dalam akuarium
kau memandangku
aku cuma bisa meraba-raba siapakah kau siapakah aku

Blog EntrykaraOct 3, '08 8:10 AM
for everyone
tuhan, apakah yang mesti aku tangisi?

alis mataku berkabung
ia jadi begitu tipis
dan berduka

mungkin aku dilukis
seperti kepahitan
mungkin aku dilukis
seperti kelupaan

gelintir patos
menyatu dengan pipi
merah dahaga
serupa pinsil warna
yang dicacah

angin dan burung
menjerit, menyampaikan
segelintir kata
yang asing
s u n g g u h a s i n g


pakaianku
terkelupas nyalang
yang tersisa hanyalah
tulang-tulang bahu
yang menonjol

tetapi ada poni putih
yang mesra tergantung dan
bibir semungil kolibri

tuhan, apakah yang mesti aku tangisi?

painting: kara by mark ryden




Blog Entrynarasi butaOct 1, '08 8:08 AM
for everyone
sesudah perjamuan berlalu
malam adalah bintang-bintang ungu
yang saling berkedip kecut
membayangi mayat yang telah dilecut
bel berbunyi tanpa henti
mulut angkuh mereka datang
padahal aku cuma ingin duduk di kursi rotan
sambil meneguk anggur merah
bertahun-tahun kau mengetuk keras pintu kamarku
menyuruhku untuk segera keluar lalu mendengar
sebuah lakon berisi sejumput pasir keruh
aku sungguh tak bisa melihat
nampaknya aku sedang digoda setan
aku sungguh tak bisa melihat
nampaknya ini bukan sesuatu yang
gampang seperti pelajaran membentak
aku sudah lama menguping pembicaraan-pembicaraan antusias mereka
sesudah saling berpegangan tangan penuh kesetiaan:
seseorang berlari jauh dari rumahnya, nak
kaki-kakinya kuat mencapai sepuluh kilometer
ia serasa terbang melingkar bagai burung-burung pagi
mereka saling mendekap haru
sedangkan aku mengikir kuku
dan aku sering diejek ketinggalan jaman
terlalu banyak bernyanyi lagu-lagu barat
dengan mikrofon rusak di tangan kiri  
bersama teman-teman gaduh yang sehati
akhirnya cerita-cerita berlalu
tapi gema para tetangga selalu menyatu
mereka memberikanku tiket untuk bersuka cita
aku kalah aku kalah aku kalah

Blog Entrygerimis pada sebuah kalenderSep 22, '08 8:13 AM
for everyone
mengapa kita selalu berangkat di waktu subuh?
selalu terburu-buru
                  selalu diburu-buru
          hantu-hantu

kau mengendarai mobil begitu gelagapan
seolah olok-olokan mampir untuk mengusik tajam

kita lewati jalan-jalan berdebu itu
di sisi kiri kanan penuh pohon beringin hijau
ditemani kucing-kucing lucu berbulu rontok

kita juga berusaha menelan musim
kadang memusuhi waktu yang tak menentu
menerkam layar yang utuh
                                  yang berkibar

aku tak ingin memikirkan diri sendiri kembali
aku ingin menangisi kalender yang sepi
                                            kalender yang menepi

masa lalu adalah masa ketika aku diharuskan untuk bertahan
ketika aku memeluk orang-orang tercinta
di hadapan mimbar sempit penuh kesedihan bernanah
melempar-lempar tubuh ke jalan raya tanpa tanda panah

sedangkan masa depan melempari celah-celah mimpi dengan palu
sedemikian ganjilnya aku berharap ada sesuatu yang bisa dikenang
namun ia tak kunjung menanggalkan sepatu di atas keset
                                                      tak kutanggalkan dadaku yang seset

malam datang dan aku memujamu lewat gambar-gambar mewah
berbentuk kota paris dengan menara eiffel
berbentuk kota roma dengan menara pisa
kulipat dirimu dengan luka di bawah ketiak
                                   kujemput kau lewat keinginan
                     harap-harap cemas
                                      cemas yang mengharap-harap
jangan runtuh dulu dunia ini sebelum kekal hatiku

aku di sini sudah menjelma ciuman serta percakapan
aku dan temanku bercengkerama akan nenek sihir
yang diubah jadi kodok jelek oleh tongkat ajaib potter

Blog Entrylabirin malamSep 19, '08 9:18 AM
for everyone
I
hampir pukul dua hampir kau mengantuk
tapi malam menghantam bagai cerita subuh
tak ada siang bermatahari
tak ada malam berbulan bintang

kau tak mematikan lampu
kau hanya menutup tirai jendela berbau pesing
kepalamu menengok segala arah:
teman-teman tertidur di toilet, di lantai kamar, di genting

II
para ibu datang membawa rantang
perhiasan mereka bergemerincing
di antara gedung-gedung runcing
berlampu rendah yang begitu dingin

kau tak pernah mengenal mereka
tak salah jika kau berupaya untuk kabur
ketimbang harus terikat rantai besi
telanjang bulat telanjang menantang

IV
mereka pergi, kau tetap di sini
bercengkerama dengan semut-semut hitam
kadang pucuk kepalamu dicucuri air seni tikus
pada atap yang bolong, pada hatimu yang bolong

ah, siapa yang peduli dengan
cericit cicak yang begitu cantik untukmu di malam hari
saat mereka tengah menonton pertunjukkan sirkus yang bodoh
rintihanmu pun tak pernah bisa dimaklumi

IV
kau butuh waktu untuk menepiskan mereka pelan-pelan
lantas berjinjit penuh ketakutan
ketika orang-orang tertidur pulas dengan liur menetes seperti anjing
dan kau cuma bisa memainkan ikan-ikan di dalam akuarium, meremasnya mati

atau mungkin kau takkan bisa kemana-mana
selain menunggu waktu yang tepat untuk mencari pelangi
di sini juga nihil:
tak ada musik tak ada buku tak ada seks

kadang beberapa orang yang baik hati menawarkan diri untuk menyanyi
tapi itu sudah lama sekali
mereka telah pulang diseret dan tak kembali lagi

Blog EntrymumurSep 15, '08 5:48 AM
for everyone
di musim hujan
yang selalu kau bicarakan
adalah purba yang meradang

aku ingin kau raba
seperti kaca jendela
tetapi kau tak henti
mengigau di balik lelap

lihatlah yang gugur
di atas hati yang kau kira sasa
tetap saja, aku bukan bangunan purba

tentu kau tahu


Blog Entryeveryone's gone to the moonAug 9, '08 2:44 PM
for everyone

                     you fear
           the people
coming for you
in your
                  dreams
a disillusioned
        artist
waiting
              for
the
       clock to
strike when
                    your
eyes
       are
          c  l o s e d


Blog Entrymagic suciaMay 4, '08 2:16 AM
for everyone

aku ingin mengirim surat-surat untuknya
menuliskan banyak hal jika aku sudah

tidak kebal pada perih, ingin menjualnya
kemudian tidur di ranjang besar bersama

kekasih-kekasih khayalan yang seperti nyata
betapa berharga juga jika ia mengerti akan

kehadiran musik di sudut-sudut rumah
serta buku-buku tipis stensilan

pernah aku bertanya pada cerita-cerita
malam yang sudah kedaluwarsa kalau apakah

tahun depan aku bisa kembali melingkari
angka-angka di kalender dengan spidol merah

bergumam apakah aku akan menikmati
sarapan pagi atau tidak, tapi yang kutanya

selalu ragu-ragu di balik tempat tinggalnya
dan ketika ia membuka suara, telingaku

sudah berpindah ke sudut lain, melanjutkan
kisah-kisah menegangkan yang adiktif

aku tak bisa mendengar
aku tak bisa mendengar apapun
         
setiap kali aku mundur ke belakang, apa
yang kudapatkan hanyalah wajah-wajah

muram semuram garis-garis di suatu halaman
matematika yang kurang teliti, atau cap

pahit yang rasanya sampai pada lidah
sudah sejak lama aku ingin meniup terompet

atau menyajikan sup jagung manis untuk
bersenang-senang di bawah senja, tapi ia

memilih untuk menaruh sandal jepitnya
di dekat para leluhur, membuat jebakan

apakah ini hidup atau petak umpet
ia tengah enak tertidur, aku tengah menanam

bunga di pelukan lelaki, sembunyi-sembunyi
kadang di samping halte kadang di gudang

takut tertangkap penjaga yang sigap, lalu
dimasukkan ke dalam penjara anak nakal

tinggalkanlah aku, tinggalkanlah aku
jangan pernah ingin mengamankanku

jika kau akhirnya memang lebih suka
bersembahyang dan menolak membacakan

dongeng-dongeng hingga aku bosan dan mati
mati yang abadi, mati yang sungguh mati

dulu baginya kehadiranku seperti kado manis
ulang tahun yang menggembirakan, sedangkan

yang telah kupelajari selama ini bahwa kelahiranku
adalah sesuatu yang banyak meninggalkan

pesan-pesan buruk, pesan-pesan gagal
yang diarak di sepanjang jalan

image: jeremy forson


Blog Entrypercakapan kematianMar 11, '08 2:40 AM
for everyone
bercakap-cakap di bawah bulan
dua kali salah menyebut nama
satu kali mencoba menulis kisah
pengantin perempuan yang
anggun dengan akhir sinderela

di loteng, tiba-tiba kau menunjuk
tanda yang merebutku dari aman

ada gambar-gambar
yang sudah lama mendekap tubuh:
kita yang bergetar, menengok ke kanan kiri
mencurigai adanya hantu

kita memang bertahan hidup dengan
saling menampar pipi orang lain
hanya saja kita malu mengakui
selalu marah pada kenyataan pahit

ketika perih sudah menyentuh
tinggalah kita sengsara dan terpenjara

kau akan tenggelam di dasar kolam
meninggalkan jejak-jejak terdalam
yang sangat dicintai;
beribu haiku yang sinis
serta bayi-bayi yang belum sempat dilahirkan

 

13 Februari 2008


Blog Entrypuisi untuk frida kahloFeb 21, '08 10:14 AM
for everyone

rumah biru di coyoacán
mendamba harum
tehuana putihmu
sementara memori
anak-anak kecil
masih bernyanyi

frida kahlo
pata de palo
un pie bueno
el otra malo!

frida, frida
de su boca
por judia!

terngiang-ngiang di
telingamu yang
sudah terbakar
(sebab kremasi
membuatmu tidak letih
dalam telentang panjang)

kau pernah melukis
luka di atas kanvas:
di tahun 1935, sesosok
perempuan tercabik-cabik
pisau runcing milik lelaki berwajah rivera
di atas tempat tidur
ia mengatupkan mata
rambut hitam porak-parik
tubuh telanjang tersayat
selubung cemburu atas cristina

dan kau memutuskan
bahwa hidup tidak untuk
bersepi saja, lantas kau
mengundang noguchi
dan muray untuk
meneduhkan hatimu
yang siap ditelanjangi

tak bertahan lama
kau mendendangkan
sebuah kisah di rumah sakit
kau putar piringan hitam
yang meletuskan
suara-suara parau

erosku tak bisa bergerak leluasa
lalu aku taruh ia di dalam tabung kaca
transparan sebesar ubin keramik
yang hampir retak

bukanlah ubin keramik yang terdapat
gambar anak-anak berwajah ceria
di bawah selimut abu-abu langit
melainkan ubin keramik yang terpecut
sol-sol sepatu kusam berbunyi kasar

mulailah aku melukisnya
saat debu pada lokan berubah jadi abu
saat karang-karang tak lagi kokoh
saat pintu-pintu kota yang bising lenyap
saat tangan-hatiku terulur bebas
        
bersama darah yang merembes di atas seprai
bersama selang tipis merah
yang di atasnya menjelma erosku
dengan tubuh fetus seperti cumi-cumi
mengetam dan kepala sebesar matari

menjelang hari kematian
kau menulis: mengapa
aku membutuhkan kaki-kaki
jika memiliki sayap-sayap
untuk terbang.

enam ratus orang datang untuk
mengecup keningmu
mengantarmu beradu menuju api
yang abunya di botol
keramik telah tersimpan rapi

di rumah biru


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help