
senja yang mengusap, melarikan diri dari tepi
dapatkah kau merasakan pedih yang mendidih?ia tetap bertahan melintasi
jalan setapak kota tua yang senyap
tak ada suara-suara jangkrik atau desahan liar
sesuatu yang bergerak-gerak adalah jantung
jantung berdetak-detak bagai sebuah irama
berpacu kencang selaju dengan lesatan kereta
kelinci merah muda berleher dasi
pohon-pohon hijau tumbuh kurus di kiri kanan
rumput tegak lurus tak tersentuh angin sepoi
jam kotak di samping kanan jalan
menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit
sudah waktunya bermandi di pancuran
dinanti-nanti para saudara setiri baik budi
yang tengah menyiapkan anggur merah sepekat darah
lantas mereka akan mabuk
menari-nari diiringi musik gipsi
bernada purba, dari lampau yang jauh
kereta mungil itu beroda bulat
berwarna merah melingkar-lingkar
seperti episentrum menandai kepala-kepala yang tengah pusing tujuh keliling
apakah ia membuat lolipop besar untuk dijadikan roda-roda, ibu?tibalah ritual sempurna
—rumah kecil nenek di sebuah pedesaan yang remang
keranjang-keranjang bolu yang sekarang berisi kue ulang tahun
teringat tulang-tulang nenek yang kadang mengeras
kadang riuh pedas
ia akan meringis keras jika kedua pahanya tersentuh
meski mereka hanya seekor lalat tak bertenaga
tubuh tak lembek seperti bubur ayam
tubuh meriang seperti malaria yang akut
semakin sekarat, semakin berkarat
ketuk, ketuklah pintu kayu itu!kini nenek siap meniup sembilan puluh lilin
ia melangkahkan kaki-kaki mungilnya
rumah begitu gelap
pengap
bagai tombak neraka
permainan-permainan petak umpet tak bergerak
asap-asap mengangkasa melebur jadi orang-orang
atau sekelumit arang
mendadak lupa ingatan akan kue alot stroberi di tangan kanan
merah darah merekah marah!nenek berstoking jala tertawa terbahak-bahak
beberapa kaca ikut melagukan dendang
yang berdengung-dengung
pintu-pintu tertutup rapat
seolah-olah tak menerima lincah bulan purnama di luar:
kuning gading
bundar lembing
pandanglah, pandanglah wujudmu!nenek meraih cermin merah di dinding
menyodorkan padanya, menyuruhnya berkaca
dan seperti terhisap
ia tersedot
ia terburai
ia tersedot terburai
oleh
c e r m i nrumah kayumu mendamba jejak hadirmu
mereka telah menyiapkan sekaleng manis-manisan
bisa manis bisa pahit
untuk kecap lidahmu, lidah yang luar biasa panjang
sepanjang lorong-lorong
di dalam kelengangan
c e r m i nnenek berkomat-kamit, selesai sudah menggamit
gadis malang keluar dari cermin tersengal-sengal
di sana mungkin berlari-lari mencapai surga
setengah jam tersedot terburai
hanya beberapa detik ia berprasangka:
siapa kau? kau pencuri?—ya, pencuri usia
ataukah kau saudara kembarku, telah keluar dari kubur?
kembalikanlah, kembalikanlah!cermin yang merah
diukir oleh tangan-tangan rekah
mantra-mantra terucapkan tak gontai
dan ia berani memandang cermin merah itu
nenek telah memakai sepatu balet hitam polos
baju terusan hijau lumut
sedangkan ia cuma bisa memandang keriput-keriput yang berdansa
menyanyikan halo menyanyikan hola menyanyikan halo hola
tunggangkanlah roda-roda lolipop!nenek siap menggetarkan pagar tegap rumah gadis itu
tolong buka pintunya! aku telah menuangkan ritualku ke dalam cangkir dengan baik, ibu!tak lupa, ia membawa cermin merah rekah serta
senyum serigala
5 Oktober 2008--terinspirasi lukisan Jessica's Hope-nya Mark Ryden